Now you Know

Posted: 08-05-2015 in more

Dakwah activity must not only through verbal language and be presented from a podium. It can be through “a pen” (written language) even by utilizing the technology and bloging.

I know I have an inspiring story and I am here to inspire you too, however I want to do it the right way. I speak only from my experience and please don’t feel like you owe me anything because of it. This is my way of paying forward the amazing things that have happened to me.

sudah dulu opening versi bahasa inggrisnya hehehe.. sekarang saatnya kita bercerita tentang pengalaman amazing saya

to be continue..

Advertisements

Ga Usah Nunggu dianter Ke Masjid

Posted: 20-04-2015 in more
Tags: , ,

widhi_masjid

Saat kita lahir, orang tua kita mengumandangkan Adzan di telinga kita. Lalu saat meninggal kita pun disholatkan. Itu berarti hidup kita sungguhlah singkat. Sesingkat jarak antara Azan dan Sholat. Lalu masihkah kita akan menyia-nyiakannya ? Jika difikir secara logika memanglah hidup ini singkat. Seperti beberapa sumber yg mengatakan bahwa hidup kita di dunia rata-rata hanyalah 1,5 jam di akhirat.

1 hari di sisi Allah (akhirat) adalah seperti 1000 th menurut perhitungan dunia (Qs. 22: 47)

Mari kita lihat berdasarkan Al Qur’an.
1 hari akhirat = 1000 tahun
3 jam akhirat = 125 tahun
1,5 jam akhirat = 62,5 tahun

Jika umur manusia rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1,5 jam saja, tetapi sangat sangat lah menentukan utk selanjutnya.

Pantaslah kita selalu diingatkan masalah waktu (Qs.103:1)

Ternyata hanya 1,5 jam saja yang akan menentukan kehidupan abadi kita kelak, hendak di Surga atau Neraka (Qs. 35:15, 4:170).

Cuma 1,5 jam saja ujian-cobaan hidup, maka bersabarlah (Qs. 74:7, 52:48, 39:1­0).

“Satu Setengah Jam” sebuah perjuangan yg teramat singkat dan Allah akan mengganti dgn surga dan Ridha-Nya (Qs. 9:72, 98:8, 4:114).

Maka berjuanglah untuk mencari bekal perjalanan panjang nanti (Qs. 59:18, 42:20, 3:148, 28:77).

Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sungguh² mengetahui” (Qs. 23:114)

“Kita dilahirkan…untuk menuju kematian…”, “Kita tinggal…untuk meninggal…” Orang-orang hebat…para penguasa dunia….ternyata hanya tinggal berita dan kenangan…harta dan kekuasaan yang mereka miliki tak kuasa untuk mengkekalkan mereka…

dalam suatu riwayat hadist,
Ibnu Umar r.a. berkata :

ﻓﺄﻱ ﺍﻟﻤﺆﻣﻨﻴﻦ ﺃﻛﻴﺲ

ﻗﺎﻝ ﺃﻛﺜﺮﻫﻢ ﻟﻠﻤﻮﺕ ﺫﻛﺮﺍ ﻭﺃﺣﺴﻨﻬﻢ ﻟﻤﺎ
ﺑﻌﺪﻩ ﺍﺳﺘﻌﺪﺍﺩﺍ ﺃﻭﻟﺌﻚ ﺍﻷﻛﻴﺎﺱ

“Wahai Rasulullah orang mukmin manakah yang paling cerdas?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “(ialah) Yang paling banyak mengingat pada kematian, dan yang paling baik persiapannya untuk akhirat, mereka itulah orang-orang cerdas” (HR Ibnu Majah no hadist 4249)

Jadi, mulai sekarang hargai waktu kita ya! so..  Ga usah nungguin orang bwt nganterin kita ke masjid, Ok..!☺☺☺

4 Tali Keimanan

Posted: 20-09-2014 in catatan
Tags: ,


1.Bersyukur
2.Mengagungkan
3.Memerlukan dan mempersungguh
4.Berdo’a

Setelah diberi Hidayati ups.. maksudnya Hidayah.. Hahhaa, yaitu dijadikan orang iman orang Jama’ah. Bisa menerima, mengerti, memahami, dan menetapi agama Islam yang haq yaitu qur’an Hadits secara ber-Jama’ah karena Alloh (semata-mata berharap ingin masuk surgaNya Alloh selamat dari siksa nerakaNya), agar hidayah Alloh tidak terlepas dari diri kita masing-masing dan kita bisa lulus, sukses, berhasil, hidup mulya mati masuk surga, maka hidayah Alloh Qur’an Hadits Jama’ah ini supaya selalu diramut, dijaga, diikat dengan 4 tali keimanan, yaitu :

1.Bersyukur

Yang dimaksud syukur disini adalah mensyukuri pemberian Alloh yang berupa hidayah/Qur’an Hadits Jama’ah. Adapun syukur dengan ucapan adalah menyebutkan kalimat : الحمد لله berdasarkan dalil :

الْحَمْدُ رَأْسُ الشُّكْرِ مَا شَكَرَ اللهَ عَبْدٌ لاَ يَحْمِدُهُ . رواه البيهقى

Artinya : memuji itu polnya syukur, tidak bersyukur pada Alloh hamba yang tidak memujinya.

الْحَمْدُ عَلَى النِّعْمَةِ اَمَانٌ لِزَوَالِهَا. رواه الديلمى

Artinya : memuji atas nikmat mengamankan hilangnya nikmat.

Sedangkan bersyukur dengan perbuatan adalah selalu menertibkan dan meningkatkan kewajiban-kewajiban ibadah (mento’ati peraturan-peraturan Alloh, Rosul, dan peraturan-peraturan dalam jama’ah) dengan hati ridlo sak dermo,  karena Alloh dan riang gembira. Sebagaimana Rosululloh SAW walaupun sudah diampuni dosa-dosanya, tetapi beliau terus meningkatkan ibadahnya kepada Alloh, meningkatkan sholat lail nya sampai kedua tumit dan telapak kakinya pecah, ketika ditanyai oleh Aisyah beliau menjawab :

اَفَلاَ اَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا. رواه البخارى

Artinya : bukankah aku ini hamba yang bersyukur.. 🙂

Kita wajib bersyukur kepada Alloh sebab dengan bersyukur itu Allloh menambah nikmatnya, ridlo, Alloh akan membalas dengan surga dan Alloh tidak menyiksa, sebaliknya kalau kita tidak bersyukur berarti kufur, Alloh murka, Alloh akan mencabut nikmatNya dan menyiksa (memasukkan ke dalam neraka) Alloh berfirman :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ َلأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيْدٌ * سورة ابراهيم 7

اِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ اْلكُفْرِ وَاِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُُمْ …         الأية الزمر 7

مَا يَفْعَلُ اللهَ بِعَذَابِكُمْ اِنْ شَكَرْتُمْ وَءَامَنْتُمْ وَكَانَ اللهُ شَاكِرًا عَلِيْمًا * سورة النساء 147

2.Mengagungkan

Yang dimaksud mengagungkan disini adalah mengagungkan hidayah Alloh (Qur’an Hadits Jama’ah) artinya QHJ harus lebih diutamakan, lebih dipolkan, dinomor satukan, didahulukan dari pada kepentingan-kepentingan yang lain. Tidak dihina, tidak di remehkan, tidak dijatuhkan, tidak dilalaikan tidak dinomor duakan berdasarkan sabda Rosululloh SAW

عَنْ اَنَسِ بْنُ مَالَكٍ قاَلَ قَالَ رَسُولُ الله صلى الله عليه وسلم لاَ يُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتَّى اَكُونَ اَحَبَّ اِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ ، وَوَالَدِهِ ، وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ * رواه مسلم فى كتاب الإيمان

Artinya : kalian tidak dikatakan iman sehingga kalian lebih mencintai aku Nabi mengalahkan mncintai anak, orang tua, dan semua menusia .

Adapun praktek mengagungkan Qur’an Hadits Jama’h adalah mengerjakan perintah Alloh, menjauhi larangan agama dengan hati ridlo, sakdermo,senang, longgar, merasa ringan/ tidak merasa berat dan tetap karena Alloh.

Mengagungkan Qru’an Hadits Jama’ah berarti mengagungkan syairulloh dan mengagungkan semua yag diagungkan oleh Alloh yang didalamnya termasuk :

  1. Qur’an dan Hadits (mengagungkan, mengepolkan hokum-hukum/.peraturan-peraturan dalam Qur’an Hadits dan Mushafnya. Kitabnya supaya diramut yang baik, diberi sampul yang baik, ditempatkan ditempat layak dan ditempakan di tempat yang lebih tinggi.
  2. Mengagungkan sya’irulloh yang berupa masjid dan tempat-tempat ibadah (supaya dijaga kesuciannya, kerapiannya dan selalu digunakan untuk beribadah seperti : sholat berjama’ah, membaca Al qur’an, untuk iktikaf dll.
  3. Mengagungkan syairulloh berupa para Imam, pengurus, oragn yang diberi dapukan dalam jama’ah (bias menerima semua ijtidad-ijtihad yang tidak ma’syiyat dengan hati ridlo dan mentho’ati dengan hari niat mukhlis lillah karena Allah, bisa menjaga kewibawaan Imam, pengurus tidak merusak, tidak menghina, tidak meremehkan. Berdarkan sabda Rosululloh SAW :

السُّلْطَانُ ظِلُّ الله فى اْلأَرْضِ فَمَنْ اَكْرَمَهُ اَكْرَمَهُ اللهُ وَمَنْ اَهَانَهُ اَهَانَهُ اللهُ * رواه الطبرانى

Artinya : barang siapa yang memuliakan Imam, maka Alloh akan memuliakan padanya, dan barang siapa yang menghinakan/meremehkan Imam maka Alloh akan menghinakan padanya.

حَامِلُ الْقُرْاَنِ حَامِلُ رَايَةَ اْلإِسْلاَمِ مَنْ اَكْرَمَهُ فَقَدْ اَكْرَمَهُ اللهُُ وَمَنْ اَهَانَهُ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ *      رواه الديلمى

Artinya : pembawa Alquran (mubaligh, mubalighot) itu pembawa bendera agama islam. Barang siapa yang memulakannya berarti dia telah memuliakan Alloh dan barang siapa yang menhinanya maka dia akan mendapatkan laknat Alloh.

Adapun hasilnya mengagungkan kepada yang berhak di ta’dzimi adalah menambah ketaqwaan dan mati sewaktu-waktu masuk ke dalam surga selamat dari neraka. Berdasarkan dalil

وَمَنْ يُعَظِّمْ شعائر الله فإنها من تقوى القلوب * سورة الحج 32

3.Memerlukan dan mempersungguh

Yang dimaksud memerlukan dan mempersungguh adalah berusaha mengamalkan Qur’an Hadits Jam’ah sampai berhasil (terlaksana/kelakon) secara lahir batin.

  • Umpama tidak sempat, ya disempat-sempatkan
  • Umpama tidak kuat, ya di kuat-kuatkan
  • Umpama tidak bisa, ya dibisa-bisakan
  • Umpama tidak faham, ya difaham-fahamkan
  • Umpama tidak mantap, ya dimantap-mantapkan
  • Umpama tidak mau, ya dimau-maukan
  • Umpama tidak masuk, ya dimasuk-masukkan . sehingga bisa kelakon.

Contoh :

sempetin*seharian penuh bekerja, badannya capek, tetapi masih memerlukan dating ke tempat pengajian, tidak mengantuk, ngobrol, ngelamun.

*pada waktu 1/3 malam yang akhir memerlukan untuk sholat malam, do’a malam.

*ketika mendapatkan rizqi, memerlukan tuk infaq sodaqoh.

sekarang ini.. sudah memasuki zaman akhir, pelanggaran dan kemaksiyatan sudah marajalela dimanamana, tapi memerlukan menghindari pelanggaran dan kemaksiyatan.

Hasilnya jika kita memerlukan dan mempersungguh di dalam menetapi kewajiban beribadah, maka Alloh akan memberikan pertolongan, memberikan kemudahan, memberikan barokah sehingga tetap dalam keimanan bahkan semakin lama semakin mantap, semakin yakin, semakin tertib, semakin senang, hidupnya penuh barokah sampai khusnulkhotimah, akhirnya masuk surga selamat dari neraka. Berdasarkan dalil :

وَالَّذِيْنَ جَاهَدُوا فِيْناَ لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا * سورة العنكبوت 69

Artinya : dan barang siapa yg mempersungguh di jalan-Ku (Allah) niscaya akan Aku tunjukkan jalannya.

يَابْنَ اَدَمَ تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِي اَمْلأْ صَدْرَكَ غِنَى وَاَسَدَّ فَقْرَكَ وَاِنْ لمَ ْتَفْعَلْ مَلأْتُ صَدْرَكَ شُغْلاً وَلَمْ اَسُدَّ فَقْرَكَ * رواه ابن ماجه

Artinya : Wahai anak Adam sempatkanlah (perlukanlah) ibadah kepadaku (Allah) maka aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutup kefakiranmu, dan kalau kamu tidak mengerjakannya maka Aku (Allah) akan memenuhi hatimu dengan kesibukan dan Aku tidak menutup kefakiranmu.

Kalau kita memerlukan dan mempersungguh dalam menetapi kewajiban beribadah, malas, sembrono, gampang mbledong maka Alloh akan semakin menyimpangkan, menambah malasnya, tambah sembrono hingga keimanannya,dan hidayahnya dicabut oleh Alloh akhirnya bisa murtad, hidupnya tidak barokah  سوء الخاتمة akhirnya mati masuk neraka. Na’udzubillahimindzaliik.. ,Berdasarkan dalil firman Allah dalam Alquran :

فَلَمَّا زَاغُوا اَزَاغَ اللهُ قُلُُوبَهُمْ وَاللهُ لاَ يَهْدِي اْلقَوْمَ الفَاسِقِيْنَ * سورة الصف

Artinya : Barang siapa yang menyimpang, maka Allah akan simpangkan sekalian hatinya dan Allah tidak memberi petunjuk kaum yang fasik.

4.Berdo’a

Yang dimaksud berdo’a disini adalah memohon kepada Allah agar kita ditetapkan dalam keimanan sampai ajal mati kita masing-masing dan mati sewaktu-waktu berhasil masuk surga selamat dari neraka. Berdasarkan sabda Rosululloh SAW :

إِنَّهُ لَيْسَ اَدَمِيٌّ إِلاَّ وَقَلْبُهُ بَيْنَ أَصَبِعَيْنِ مِنْ اَصَابِعِ اللهِ فَمَنْ شَاءَ اَقَامَ وَمَنْ شَاءَ اَزَاغَ *   رواه الترمذى

Artinya : tidak ada seorang pun dari anak cucu adam kecuali hatinya ada diantara dua jari dari beberapa jari Allah, maka barang siapa yang dikehendaki Allah, maka Allah akan menetapkan hatinya dalam keimanan, dan barang siapa yang dikehendaki Allah, maka Allah akan menyimpangkan hatinya dari keimanan.

Perlu disadari bahwa keimanan itu kadang diatas dan kadang dibawah (وأن الإيمان يزيد وينقص. رواه مسلم) bertambahnya keimanan ditandai dengan adanya ketho’atan dan ketertiban ibadahnya, dan kurangnya keimanan ditandai dengan adanya pelanggaran-pelanggaran, kemaksyiatan akhirnya Alloh menyimpangkan hatinya sehingga keluar dari keimanan, mati sewaktu-waktu masuk neraka maka kita supaya selalu berdo’a kepada Alloh dengan do’a minta ditetapkan dalam keimanan, seperti :

…رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْناَ عَلىَ اْلقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ * سورة البقرة 250

… يَا مُقَلِّبَ اْلقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ . رواه الترمذى

Dan supaya difahami bahwa Allah berjanji akan mengabulkan do’anya orang iman. Dan berdo’a itu merupakan kewajiban ibadah yang harus di amalkan berdasarkan firman Alloh :

وَقَالَ رَبُّكُمْ اُدْعُونِي اَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ * ءورة الغافر 60

Artinya : dan tuhanmu telah berfiman : kalian berdo’alah kepadaku pasti akan aku kabulkan do’amu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong dari ibadah kepadaku (orang-orang yang tidak mau berdo’a) mereka akan masuk ke dalam neraka jahanam keadaan hina.

إِنَّ الدُّعَاءَ هُوَ الْعِبَادَةُ * رواه البخارى

Artinya : sesungguhnya berdo’a itu adalah ibadah

ادْعُوا اللهَ وَاَنْتُمْ مُوْقِنُونَ بِا ْلأِِجَابَةِ وَاعْلَمُوا اَنَّ اللهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ * رواه الترمذى

Artinya : kalian berdo’alah kepada allah dengan keyakinan bahwa do’a kalian dikabulan, dan ketahuilah sesungguhnya Allah tidak mengabulkan do’a dari hati yang lupa lagi lahan (tidak yakin/tidak khusyu’)

Dan supaya diketahui bahwa cara Alloh mengabulkan do’a itu ada 3 :

*Alloh langsung memberi apa yang diminta
*Alloh menyimpan / menunda apa yang diminta dan memberikannya nanti di akhirat.
*Alloh mengganti dengan yang lain yang lebih baik.answered

Allah telah berfirman: “Infaklah! Aku (Allah) akan menginfakkan kepadamu!”

img : Yumi

img : Yumi

Kedahsyatan hamba-hamba Allah yang Sodaqoh/Sedekah dikisahkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ahmad :

Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Robbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”

Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Robbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”

Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).
Bertanya kembali para malaikat, “Ya Robbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”
Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikat

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).
Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu Ya Allah?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”
Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Itu gambaran yang Allah berikan kepada kita saudara saudara.. bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan luar biasa dahsyat adalah hamba yang bersedekah dengan ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.
Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

الحمد لله جزا كم الله خيرا

semoga Allah senantiasa paring rizki yg Barokah

Amiiin Yaa Robbal Alamiin …

img : zonamantap.blogspot.com

Allah telah mengabadikan dalam Al-Qur’ anul Karim sebuah nama, seorang ratu yang memimpin sebuah negeri yang besar, luas dan kaya.

Kisah sang ratu tak dapat dipisahkan dengan kisah Nabi Sulaiman, yang juga terkenal dengan kemegahan istana kacanya.

Ratu Bilqis, kisahnya ada dalam Al-Qur’anul Karim surat An-Naml ayat 20-44. . Hidup semasa dengan Nabi Sulaiman tetapi dipisahkan oleh jarak, Nabi Sulaiman di Masjidil Aqsa, Palestina, sementara Bilqis di Yaman, Saba’ . Allah Yang Maha Pemurah telah menganugerahkan beberapa keistimewaan kepadanya maka pantaslah bila kita memetik hikmah dari kisahnya.

Pemimpin kerajaan yang besar, luas dan sukses

Seorang pemimpin negara yang sukses, negeri yang dipimpinnya sangat luas dan subur, jaminan kemakmuran bagi rakyatnya. Tapi sayang cahaya keimanan belum sampai ke negerinya, meskipun sang mentari setiap hari dijadikannya sebagai sesembahan.

Kisah ratu Bilqis paralel dengan kisah Nabi Sulaiman, maka dalam surat An-Naml kisahnya diawali dengan kisah Nabi Sulaiman :

Nabi Sulaiman , seorang nabi sekaligus raja. Kerajaannya bukan hanya terbatas pada manusia, makhluk selain manusia, seperti jin dan binatang pun ikut membantu kepemimpinannya.

Dalam sebuah sidang Sulaiman melakukan inspeksi. Kini giliran burung hud-hud hendak dimintai keterangannya. Namun si burung tak terlihat batang hidungnya.

Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: ” Mengapa aku tidak melihat hud-hud (sejenis burung pelatuk), apakah ia termasuk yang tidak hadir.”

Sebagai konsekuensi dari ketidakhadirannya tanpa pemberitahuan. Sulaiman berniat akan memberikan sangsi. Sungguh kedisiplinan telah diterapkan secara tegas, bahkan kepada seekor burung. Dan ini diumumkan agar menjadi perhatian yang lain. Jadi harus ada alasan yang kuat dan jelas bila tidak hadir. Maka berkatalah Sulaiman kepada rakyatnya:

” Sungguh aku akan meng-azabnya dengan azab yang keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang jelas.”

Beberapa saat kemudian sampailah burung hud-hud, segera menghampiri Sulaiman.

Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata :” Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar.

Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah dan syaithon telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan.

Allah tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai ” Arsy yang Agung”

Seorang ratu yang sangat konsisten pada prinsip syuro

Laporan burung hud-hud diterima kemudian dipelajari. Untuk membuktikan kebenarannya Sulaiman memberi tugas kepada burung hud-hud mengantar surat kepada Bilqis.

Berkata Sulaiman : “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan membawa suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka, kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan.”

Bilqis seorang negarawan yang konsisten pada prinsip syuro, tidak pernah memutuskan suatu kebijaksanaan tanpa sebuah proses syuro.

Berkata ia (Bilqis): “Hai pembesar-pembesar sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia.

Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya:

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, Bahwa jangnlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang – orang yang berserah diri.

Berkata dia(Bilqis): ” Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)” .

Sudah menjadi sunnatullah seorang pemimpin akan ditaati dan berwibawa di depan rakyat yang dipimpinnya bila ia konsisten menerapkan prinsip syuro. Maka ketaatan para petinggi negara istana Bilqis menjadi buktinya,

Mereka menjawab :” Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan juga memiliki keberanian yang sangat ( dalam peperangan, dan keputusan berada di tanganmu : maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan” .

Memiliki Prediksi yang jitu terhadap berbagai permasalahan

Bilqis tidak hanya sebagai pemimpin yang konsisten tetapi juga politisi yang ulung. . Mempertimbangkan risiko yang terjadi,

Dia berkata :” Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakan , dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina : dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat.

Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan membawa hadiah dan aku akan menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.”

Sampailah utusan Bilqis kepada Sulaiman dengan membawa hadiah yang sangat banyak tetapi Sulaiman tidak silau dengan gemerlapnya hadiah yang sudah ada di hadapannya. Bahkan utusan Bilqis diperintahkan untuk kembali dengan membawa hadiah yang dibawanya.

Maka tatkala utusan itu sampai kepada Sulaiman, Sulaiman berkata : “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu : tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.

Kembalilah kepada mereka sungguh kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi tawanan-tawanan yang hina dina” .

Sekembalinya utusan Bilqis mulailah Sulaiman menyusun rencana untuk menghadapi kedatangan Bilqis.

Berkata Sulaiman : ” Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup memabawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri” .

Berkata ” Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: Aku akan datang kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu :sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya” .

Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al- Kitab: ” Aku akan membawa singgasana itu keapadamu sebelum matamu berkedip ” . Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata :” Ini ternasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmatNya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan ) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia” .

Sangat cepat menerima kebenaran dan menyadari kesalahan

Sesampainya singgasana Bilqis sesuai dengan permintaan Sulaiman maka singgasana tersebut segera dirubah.

Dia berkata: “Rubahlah baginya singgasananya : maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenalnya” .

Dan ketika Bilqis datang,ditanyakanlah kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu? Dia menjawab : Seakan-akan singgasana ini singgsanaku, kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri” .

Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.

Dikatakan kepadanya : ” Masuklah ke dalam istana itu, dikiranya kolam air yang besar dan disingkapkannya kedua betisnya. Berkatalah Sulaiman : “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca”.

Berkatalah Balqis:” Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam” .

Demikianlah kemuliaan sang ratu meskipun Allah Yang Maha Pemurah telah memberinya segala kebesaran yang ada padanya. Kecantikan, harta ,pangkat dan jabatan tidak membuatnya angkuh dan menolak kebenaran.

*Masruroh*

Photo0154Akhirnya aku bisa berdiri di hari terakhir aku di Kertosono. Setelah subuh, seluruh siswa tes diminta membereskan barangnya. Lulus tidak lulus tetap akan pindah, kalau lulus ke Kediri untuk pengurusan tempat tugas, kalau tidak lulus maka dirumahkan di pondok Lengkong untuk mendapatkan bimbingan lagi.

Setengah tujuh kami dikumpulkan di kelas. Kami semua diberikan motivasi yang cukup kuat agar bisa tahan apapun hasil kelulusan pagi ini. Semakin deg-degan rasanya. Beberapa malam terakhir, siswa tes meningkatkan ibadahnya. Mereka banyak melakukan shalat hajat, mereka mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meminta agar bisa lulus. “Luluskanlah aku ya Allah. Kalaupun di kertas pengumuman tertulis Tidak Lulus, gantilah menjadi Lulus ya Allah…”

Kertas dibagikan. Keadaan makin tegang. Aku tidak sabar, langsung menerawang isi amplop putih mungil. Lulus! Aku Lulus! Terdengar terikan dari sekelilingku, mereka senang sekali bisa lulus. Ada yang langsung sujud sukur. Ada yang teriak tidak berhenti-berhenti. Ada yang langsung saling berpelukan. Ada yang mojok duduk dekat tiang memandang berkali-kali tuisan Lulus di kertas mungil sambil senyum senyum sendiri, memandang lagi, senyum lagi. Aku sendiri senang memang, tapi ekspresiku tidak seheboh mereka. Biasa saja tuh.

Aku melihat ke belakang, seorang kawan merengut sedari tadi, dia tidak lulus. Aku tahu dia anak baik, hanya memang bacaan Qurannya kurang bagus. Aku jadi ikut sedih. Dia harus belajar lagi, tes lagi, jaga malam lagi, ngantuk-ngantuk lagi, dan makan blendrang lagi.

Aku meminjam telepon selular kawanku yang memang tugas di Kertosono. Aku buka kartu perdana yang sudah kubeli. Aku telepon Bapak. Dari jauh, aku tahu betul Bapak senang luar biasa setelah mendapat kabar aku lulus. Sepertinya Bapak lebih bahagia daripada aku sendiri. Sku juga merasa bahagia karena bisa membahagiakan Bapak.

Siangnya, kami yang lulus diberangkatkan ke Kediri dengan Colt yang sumpek dengan orang dan barang. Tapi rasa bahagia lebih besar mengalahkan sumpeknya Colt itu. Aku melihat ke sekeliling, memperhatikan ekspresi teman-temanku. Ada yang ketiduran karena sudah letih tersenyum. Ada yang tidak berhenti bicara. Ada yang justru sedih karena teman karibnya tidak lulus.

Di Kediri, aku langsung diajak kawanku yang sama-sama baru lulus untuk main ke Tulungagung. Sebetulnya itu melewati prosedur. Tidak semestinya aku keluar tanpa izin. Tapi biarlah. Aku tancap naik bus. Di sana aku diajak jalan-jalan ke sana ke mari. Baru dua hari kemudian aku kembali ke Kediri untuk mengurusi tempat tugasanku.

Prosedurnya memang setelah lulus tes, mubaligh tidak langsung diberikan ijazah, tapi sebetulnya ijazah sudah jadi, hanya belum diberikan. Ijazah baru diberikan setelah tugas selesai setahun. Tugas di sini maksudnya ditugaskan untuk mengajarkan kehidupan islam di sebuah masjid, seperti yang dulu diajarkan waktu di pondok. Intinya aku diminta mentransfer ilmu yang aku dapat dari pondok ke masyarakat di sebuah desa.

Aku mendapat tempat tugasan di Dusun Domban, Kelurahan Mororejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Domban terletak sekitar 15 km Utara Kota Yogyakarta. Sebelumnya memang aku minta ditugaskan di Jogja karena ingin sekalian melanjutkan kuliah.

Aku sampai di Domban sekitar Magrib. Waktu itu sedang hujan dan mati lampu. Aku ditempatkan di sebuah kamar sederhana persis di samping masjid. Lama sekali aku meringkuk di pojokan kamar. Apa bisa aku tahan di sini setahun?

“Prang!” Aku terbangun. Suara apa itu? Rupanya piring berisi makan malamku tertendang. Piringnya pecah, isinya berhamburan. Wah, bagaimana aku ini, baru semalam di sini sudah memecahkan piring.

Esoknya aku minta maaf pada pengurus masjid. Mereka baik sekali. “Ah, cuma piring. Santai saja.” Aku ngobrol banyak dengan tetanggaku. Ia bercerita banyak tentang keadaan Domban, tentang mubaligh-mubaligh yang pernah ditugaskan di Domban sebelumnya.

“Ini kunci motor yang parker di situ. Silakan dipakai. Rusak pun tidak apa-apa. Pakai saja sesukanya.” Wah, baik betul orang ini, pikirku. Baru kenal sehari sudah meminjami motor buat aku jalan-jalan. Kelihatannya aku bakal betah kalau orang sini baik begitu semua.

Sorenya aku langsung diminta mengajar cabe rawit, yaitu pengajian yang pesertanya adalah anak-anak usia SD. Mereka anak-anak yang polos. Tapi ya namanya anak-anak, kadang bikin jengkel juga kalau sulit diatur.

Pengajian remaja (usia SMP), pengajian muda-mudi (usia SMA sampai menikah), dan pengajian umum (Semuanya: bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak) aku semua yang handle. Rata-rata aku mengajar sehari dua kali, durasi per pertemuan rata-rata 1,5 jam. Namun begitu, waktuku masih banyak yang kosong.

Setiap waktunya makan, orang-orang sekitar memberikan secara bergantian. Ada jadwal khusus memberikan makan untukku. Hari ini jadwalnya siapa yang member makan, besok siapa, lusa siapa, semua jelas. Jadwal itu berputar sebulan sekali. Artinya ada sekitar 30 rumah yang secara bergantian memberikan aku makan.

Terkadang kalau pagi hari, kalau makanan belum datang, aku memetik buah salak yang betebaran di sekeliling masjid. Aku sudah izin sebelumnya dengan pemiliknya, mereka bilang ambil saja sesuka hati.

Mereka tahu aku dari Jakarta dan dalam benak mereka, orang Jakarta pasti makanannya enak-enak. Maka dari itu mereka tidak sekedarnya memberikan makan kepadaku. Tidak jarang mereka menyembelih ayam ketika jadwalnya memberikan aku makan. Wah, aku terharu sekali.

Baru seminggu di Domban, Ibuku datang. Ia membawakan segala keperluanku, baju-baju, sepatu bola, dan sebagainya. Aku bisa melihat dari raut wajah ibu bahwa ia senang sekali anaknya bisa mengajari islam di pelosok desa seperti ini. Pesan terakhir Ibu, “Hati-hati nak. Di betah-betahin ya.” Ibu berharap sekali aku bisa tahan setahun di sini.

Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, aku merasa manisnya tugasan. Semua kulalui dengan senang hati. Tidak ada masalah sama sekali. Baru sekitar bulan kelima timbul bibit ketidaknyamanan. Biasalah, konflik antarpersonal. Ada yang menganggap orang berstatus mubaligh adalah orang-orang rendahan. Aku tidak suka anggapan itu. Ah, sudahlah, toh, masih banyak orang yang cocok denganku dan senang belajar agama islam.

Ketika idul fitri tiba aku izin pulang, yaa.. tepatnya dimalam takbiran saat tiba di Jakarta aku kembali melihat kumuhnya kota metropolitan yang semeraut penuh sesak dengan kendaraan dan polusi dimana-mana, beda sekali rasanya dengan desa Domban yang saya tinggali saat itu, suasananya begitu natural, asri, sejuk, nyaman dan hijau.” masyaAllaahhh.. ternyata jakarta begini (batin ku berkata begitu)…

Aku tinggal di Jakarta pinggiran ,tepatnya Jakarta timur berbatasan dengan bekasi barat, begitu banyak perubahan yang saya lihat semenjak saya jarang jalan-jalan keluar karena sibuk mondok. Dan yang lebih membuat kaget lagi adalah ketika aku bertemu dengan teman-teman lama di rumah. Ternyata mereka ada yang sudah kerja, ada yg sudah menikah dan ada yang sudah punya momongan..,”weleh weleeeh.. -_-”

kertasana

Posted: 23-08-2014 in me ^_^
Tags:

Tes berikutnya, sekaligus tes terakhir dilangsungkan di Kertosono, Nganjuk. Lokasinya tidak jauh dari Pondok Kediri, hanya berkendara sekitar 1 jam. Aku akan menjalani tes selama satu bulan di sini, kalau lulus, rampung sudah semua ujian, kalau tidak lulus, prosedurnya aku harus berbenah lagi minimal 2 bulan, selanjutnya ikut tes lagi di Kertosono, sebulan juga. Artinya, kalau aku tidak lulus, aku harus menambah waktu ekstra minimal dua bulan.

Tidak lulus tes Kertosono itu tidak ada dalam kamusku. Kalau tidak lulus, aku tidak mau mengulang. Aku bakal langsung tancap ke Jakarta buat kuliah.

Di Kertosono, aku menyebutnya pondok Fastabiqul Khoirot (berlomba-lomba dalam kebaikan). Di sana semua siswa berlomba untuk berbuat baik. Yang biasa berbuat baik, giat, ya tetap begitu, mungkin intensitas baiknya dinaikkan. Yang kurang baik harus pura-pura baik, supaya bisa lulus. Semua aturan harus sempurna dilaksanakan. Semua tugas amal sholeh harus dikerjakan sesuai instruksi.

Ujian intinya adalah tes bacaan, tapi itu bukan ujian sebenarnya. Di sana tempatnya fisik dan mental. Setumpuk tugas amal sholeh harus dikerjakan. Setiap hari tidak ada hentinya selama sebuan.

Tiap siswa tes mempunyai tugas masing-masing. Sukur Alhamduillah aku mendapat tugas yang terbilang mudah, yaitu menjaga suplai air minum di seantero pondok agar terus terjaga, kami menyebutnya anak ozon. Ozon berasal dari kata ozonisasi yang merupakan salah satu metode pemurnian air.

Sehari-hari aku stand by di samping mesin filter berbentuk tabung panjang sebesar manusia dewasa dan tiga tabung kecil. Air dari tanah disaring di mesin itu kemudian bermuara di satu keran yang menjadi corong penghubung ke galon kosong.

Sehari tiga kali aku keliling pondok untuk mengecek galon-galon yang sudah kosong. Kalau kosong ya aku bawa, aku isi, lalu aku taruh ke tempat semula. Sekali keliling itu biasanya aku dapat 8-10 galon kosong. Ada gerobak khusus yang mempermudah pemidahan galon. Gerobak itu bisa memuat delapan galon sekali jalan. Kalau sudah terisi semua, butuh dua orang pendorong gerobak yang meletakkan galon-galon penuh ke tempat semula.

Di saat tidak keliling, aku stand by di samping mesin menunggu pembeli yang berasal dari sekitar pondok. Jadi mesin itu milik pondok, tapi sekaligus juga dijadikan mesin bisnis yang uangnya diputar lagi untuk keperluan pondok.

Setiap malam, semua siswa tes yang mendapat tugas apapun, termasuk aku, dikumpulkan di suatu tempat untuk diberikan tugas jaga malam. Semua disebar menjaga lingkungan sekitar, seperti jaga di keempat pintu pondok, jaga beberapa komplek sekitar, jaga pom bensin, jaga kandang sapi, dan sebagainya.

Satu malam dibagi dua shift. Shift pertama antara pukul 22.00-01.00, sedangkan shift kedua antara pukul 01.00-subuh. Tidak boleh ada yang tidur telentang waktu jaga. Pengontrol berputar sewaktu-waktu. Kalau tertangkap basah sedang tidur, itu bisa membuat deg-degan sampai hasil ujian keluar.

Jadi, kalau dihitung-hitung, waktu tidur siswa tes Kertosono itu hanya sekitar 3 jam semalam. Maka wajar saja kalau menjelang subuh masjid dipenuhi siswa tes yang tidur terduduk. Waktu antara adzan dan qomat betul-betul termanfaatkan… buat tidur.

Tingkah-tingkah aneh seringkali tampak menjelang shalat subuh. Ada yang tahiat tidak kunjung salam, setelah dibangunkan dia langsung berdoa, tanpa salam terlebih dahulu. Ada yang setelah qomat dia langsung berdiri tegak langsung takbiratul ihram buat sholat sunah, dia pikir itu adzan. Ada yang sholat salah kiblat. Ada yang sholat tidak sujud, jadi setelah duduk antara dua sujud, jamaah semua sujud, dia tetap duduk, jamaah tahiat, dia tetap duduk, jamaah salam, dia baru ikut salam. Ada yang waktu qomat dia tidak bisa bangun karena kesemutan akibat tidur dalam keadaan kaki bersila. Wah, lucu-lucu lah. Itu semua karena kadar kantuk yang berlebih.

Kebanyakan mereka membawa sorban setiap waktu sholat. Sebagian menyelewengkan fungsi sorban agar dia bisa memejamkan mata dengan leluasa tanpa terlihat. Sorban dijuntaikan dari kepala menutupi mata dan pipinya sampai ke bawah. Kalau dilihat dari samping, terkesan dia khusyuk sekali sedang brdzikir, eeh ternyata…

Hampir semua hal di Kertosono rasanya pahit, cuma satu yang paling nikmat dan ditunggu-tunggu: blendrang. Coba bayangkan sayur nangka yang dimasak berulang-ulang sampai berkuah kental seperti gulai. Itulah blendrang. Tidak ada cerita blendrang pondok dibuang. Kalau setelah makan pagi, di dapur masih tersisa blendrang, maka itu disajikan lagi di waktu siang, setelah dipanaskan. Kalau tidak habis lagi, untuk makan sore. Pokoknya harus habis.

Kalau dipikir-pikir, apa enaknya sayur nangka begitu? Tapi buatku enak tuh. Teman-temanku juga bilang begitu. Mungkin itu karena kami tidak punya pilihan lain, mungkin memang sebelum disajikan, blendrang didoakan barokah dulu supaya enak di lidah. Tak tahu lah.

Biasanya temannya blendrang adalah kerupuk. Jadi di satu piring hanya ada nasi, blendrang, dan kerupuk. Itu berlangsung hampir setiap hari. Aku melihat teman-temanku sering memberi penyedap rasa yang harga 1 sachetnya hanya Rp 250, cukup untuk member rasa lewat buat beberapa piring. Mereka menaburkan ke seantero piring mereka. Aku sering dengar, itu bisa bikin bego, tapi setelah aku coba, enak juga… =)

Setiap hari kerjaannya menghitung hari, tinggal berapa hari lagi aku harus menjalani ini semua? Mayoritas anak tes Kertosono kalau misalnya ditanya tiba-tiba, ini hari ke berapa? Dia bisa jawab dengan cepat.

Ada satu kejadian menarik di malam terakhir sebelum aku lulus. Seorang guru ingin mempresentasikan sebuah materi tentang cara dakwah yang baik. Proyektor sudah dipasang, kabel dari laptop sudah disambungkan, layar sudah digerai. Tapi kok tidak ada gambar yang keluar?

Sang guru meminta bantuan pada 200 anak tes. Tidak ada satupun yang menyahut. Aku lihat kanan kiri. Ini mereka merendah semua atau memang tidak paham? Padahal kelihatan jelas itu hanya mengatur sinkronisasinya saja.

Sudahlah, daripada tidak mulai-mulai, aku tunjuk jari lantas maju ke depan. Teman-temanku langsung menyoraki “ciee..widhee”. Di depan, karena hijab antara siswa dan siswi pendek, maka wajahku terlihat. Para siswi ikut menyoraki. Sang guru menyuruhku menunduk agar keadaan tenang.

Sekali klik, gambar sudah terpapar di layar. Semua menyoraki, riuh sekali. Sejak itu, di hari-hari berikutnya, ada beberapa siswi yang minta nomor HP ku, ada yang salam lewat temannya. Hehe, sepertinya aku menjadi tenar. 🙂